Rabu, 17 Maret 2010

Memupuk JURNALISME di Ranah AKADEMIK

Tidak sedikit media kampus yang terpaksa ’gulung tikar’ karena terbentur berbagai persoalan. Entah itu karena masalah dana atau perbedaan idealisme media itu sendiri. Memang masalah dana seringkali menjadi alasan berakhirnya media kampus. Tidak jarang media kampus terpaksa tidak terbit karena adanya benturan idealisme mahasiswa dengan kepentingan institusinya. Kendati sosok mahasiswa tercermin kental dalam sebuah media kampus, namun tampaknya masalah ini harus disikapi bersama, baik oleh mahasiswa maupun institusinya.


Tak banyak perguruan tinggi yang menyadari manfaat jurnalistik atau pers kampus. Padahal perguruan tinggi memiliki potensi besar dalam menyumbangkan pencerahan dan pemikiran baru bagi sivitas akademika sendiri, bahkan masyarakat luas. Bagaimana tidak, perguruan tinggi memiliki inovasi serta sumber daya yang mampu membangun solusi dan berbagi informasi. Jadi tak ada salahnya jika jurnalistik masuk di ranah akademik. Kuncinya, tetap manajemen redaksi sebagai landasan sebuah penerbitan media kampus.

Banyak cara yang dapat dimanfaatkan perguruan tinggi untuk berbagi informasi. Misalnya menerbitkan koran kampus, majalah kampus dan tabloid, melalui website, fasilitas blog dan lainnya. Atau dengan cara lebih kompleks sepeti televisi kampus dan radio kampus. Apapun bentuknya, pers kampus idealnya tetap mengindahkan ciri khas akademis, yaitu pemikiran ilmiah, rasional, objektif, kritis, etis dan menjunjung tinggi nilai-nilai intelektualitas.

Setiap rubrikrasi dan muatan berita media kampus harus berkualitas dan padat guna. Informasinya bersifat mencerahkan pengetahuan baru. Ini memungkinkan jurnalistik kampus menyoroti kehidupan khas kampus. Muatan berita mengandung unsur sistem pendidikan baru, regulasi-regulasi pendidikan, perkembangan sains dan teknologi, inovasi dan kreativitas mahasiswa, seputar penelitian dosen dan mahasiswa, kultur kampus, dan unit kegiatan mahasiswa.

Menurut pakar jurnalistik Universitas Stanford, William L. Rivers, sebagaimana dikutip Assegaf, pers kampus idealnya harus mengikuti pendekatan jurnalistik yang serius. Berisikan tentang kejadian-kejadian yang bernilai berita bagi lembaga dan kehidupannya. Pers kampus harus menjadi wadah bagi penyaluran ekspresi mahasiswa. Pun, ia harus mampu menjadi pers yang diperlukan komunitas kampusnya. Pers kampus harus memenuhi fungsinya sebagai media komunikasi dan tidak memihak sekelompok kecil orang atau netral.

Media kampus tidak kalah pentingnya dengan penciptaan ’image’ perguruan tinggi itu sendiri. Pemberitaannya pun menunjukan eksistensi, kredibilitas serta profesionalitasnya. Kendati pers kampus berbeda dengan pers umum, sudah seharusnya lingkup dunia akademik mampu menjalankan pers kampus yang terstruktur. Dengan demikian sehingga reputasi media dan kampus akan terbentuk. Pada dasarnya, eksistensi suatu media tergantung dari kondisi internal media itu sendiri. Termasuk sumber daya manusianya, sarana pra sarana serta manajemen yang terencana. Selama pengelolaannya serius, media kampus cukup prospektif.

Penerbitan media kampus memiliki visi dan misi yang ditetapkan tim redaksi. Idealnya, tim redaksi terdiri dari elemen-elemen kampus, seperti pejabat rektorat, dosen dan mahasiswa. Bagian ini penting karena menetukan sikap media kedepannya. Visi dan misi merupakan filosofi media dimana di dalamnya terdapat prinsip yang permanen. Sehingga sikap media tidak melenceng dari ketentuan yang disepakati redaksi.

Merujuk pada pemikiran teoris manajemen asal Perancis, Henry Fayol, fungsi manajemen meliputi planning, organizing, acting, dan controlling. Sebelum menerbitkan media, tim redaksi wajib melakukan perencanaan matang. Pada tahap ini, visi, misi dan aturan disusun dan disepakati bersama. Boleh dibilang, tahap perencanaan menjadi landasan karena menjadi rambu-rambu dari sikap media itu sendiri. Tim redaksi adalah organisasi. Dimana setiap bagiannya memiliki tugas dan wewenang yang berbeda. Namun, satu dengan yang lainnya bekerja dan saling bersinergi sesuai dengan perencaanaan dan pengorganisasian. Setiap edisi atau frekuensi waktu tertentu, redaksi wajib melakukan rapat redaksi untuk menentukan peliputan dan pelaporan berita. Selanjutnya, pemimpin redaksi harus me-review ulang kinerja tim. Apakah pelaporan dan gaya bahasa berita sudah sesuai dengan perencanaan awal, tata tertib redaksi dan kode etik jurnalistik. Jika keempat teori ini diterapkan, tentu akan membangun manajemen redaksi media kampus yang lebih profesional.

Media kampus sangat berpotensi untuk menjadi produk jurnalistik yang mampu memberi kontribusi bagi sivitas akademika, bahkan masyarakat luas. Sudah saatnya media kampus menjadi ajang kreativitas mengedepankan profesionalitas dan intelektualitas. Bahkan, peran media kampus pun tak sebatas lingkup publikasi saja. Mengutip Dosen Jurnalistik Universitas Padjadjaran (UNPAD), Maimon Herawati, S.Sos, M.Litt, kuliah umum Materi Penulisan dan Jurnalistik di Institut Teknologi Telkom (IT Telkom) Mei lalu, “Peninggalan terpenting sebuah peradaban adalah karya tulis. Jika ingin membangun peradaban, maka buatlah tulisan. Sebaliknya, jika ingin menghancurkan peradaban maka hancurkanlah tulisannya.” Disinilah tampak bahwa peran jurnalistik atau pers kampus bukan hanya mentransfer informasi dan kecerdasan, melainkan juga sebagai dokumentasi peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kampus.




Risca Tesmianti Suarna
Staf Humas Institut Teknologi Telkom,
Tim Redaksi Majalah TELL dan www. ittelkom.ac.id (Terbitan IT Telkom)
Dimuat di Mimbar Kampus Harian Pikiran Rakyat Edisi Kamis, 10 September 2009.

1 komentar:

  1. http://www.youtube.com/watch?v=XZi9JdbG0_k&feature=player_embedded

    -->USB-KEY_Motor_2nd-Version

    BalasHapus